Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dagangan Ludes dalam 1,5 Jam! Pedagang UMKM CFD Pasar Pinusan Banyuwangi Raup Omzet Jutaan Rupiah

  • account_circle Yusuf S
  • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUARA BANYUWANGI – Berkah ekonomi mulai dirasakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di gelaran Car Free Day (CFD) Pasar Pinusan. Baru berjualan selama satu setengah jam, dagangan sejumlah pedagang sudah ludes diborong pembeli. Tak hanya itu, omzet ratusan ribu hingga lebih dari Rp1 juta berhasil dikantongi dalam sekali berjualan.

Antusiasme pengunjung setiap Minggu pagi menjadi peluang menjanjikan bagi warga, khususnya masyarakat di kawasan pangkuan hutan. CFD Pasar Pinusan yang pertama kali digelar pada 13 September 2026 itu kini memasuki pekan keenam, Minggu (18/10/2026), dengan aktivitas jual beli yang terus menunjukkan perkembangan positif.

Senyum sumringah terlihat dari wajah para pedagang. Bagi mereka, CFD bukan sekadar tempat berjualan, melainkan kesempatan untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus mengembangkan usaha rumahan.

Berawal dari Coba-Coba, Isti Raup Omzet Rp700 Ribu

Salah satu pedagang yang merasakan manfaat tersebut adalah Isti (43), pengelola Kedai Anjani di lapak nomor 15. Ibu rumah tangga ini menjajakan nasi urap khas dengan bahan sayuran hasil hutan yang menjadi salah satu daya tarik kuliner lokal.

Awalnya, Isti hanya mencoba peruntungan dengan membuka lapak di CFD Pasar Pinusan. Namun, respons pembeli di luar dugaan. Kini, ia mampu memperoleh omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu dalam sekali berjualan.

“Alhamdulillah, saya dan masyarakat pangkuan hutan bisa merasakan dampak rezeki dari event CFD Pasar Pinusan. Awalnya coba-coba ikut jualan, Alhamdulillah ada rezeki. Saya bisa menjual nasi urap untuk sarapan. Sekali jualan bisa mendapatkan omzet Rp500 ribuan lebih,” tutur Isti.

Bagi Isti, kesempatan berjualan di CFD memberikan manfaat lebih dari sekadar tambahan uang belanja. Aktivitas ini juga menjadi kesibukan produktif yang membuka peluang untuk mengembangkan usaha kuliner rumahan.

“Alhamdulillah, ada kesibukan baru dan bisa menambah pendapatan keluarga,” imbuhnya.

Pengalaman Isti menjadi gambaran bagaimana keramaian yang terorganisasi dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Produk kuliner berbahan lokal pun berkesempatan dikenal lebih luas oleh pengunjung.

Modal 2 Kilogram Adonan, Kini Produksi 7 Kilogram

Cerita tak kalah menarik datang dari Devi (32), warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Pemilik Kedai Akeysa di lapak nomor 08 ini menjual kue bikang dan pukis yang diminati pengunjung.

Saat pertama kali berjualan di CFD Pasar Pinusan, Devi mengaku belum yakin dagangannya akan laris. Karena masih meraba potensi pasar, ia hanya menyiapkan dua kilogram adonan.

Namun, keraguan itu segera terjawab. Dagangannya habis dalam waktu sekitar satu setengah jam setelah kegiatan dimulai.

“Di awal saya ragu ada pengunjung atau pembeli. Saya hanya menyiapkan dua kilogram adonan. Ternyata habis dalam waktu singkat. Pukul 07.30 WIB sudah ludes, padahal CFD baru dibuka pukul 06.00 WIB,” ungkap Devi.

Seiring meningkatnya keyakinan terhadap potensi pasar, Devi mulai menambah kapasitas produksi. Memasuki pekan keenam, ia mampu menyiapkan enam hingga tujuh kilogram adonan untuk sekali berjualan.

Hasilnya pun cukup menjanjikan. Dari penjualan kue bikang dan pukis, Devi mengaku dapat mengantongi omzet lebih dari Rp1 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp600 ribu.

“Alhamdulillah, penjualan masih bertahan di enam sampai tujuh kilogram adonan. Kalau dihitung uang, bisa mendapatkan sejuta lebih. Kalau bersih, bisa di Rp600 ribuan. Ini bisa membantu ekonomi di rumah,” pungkasnya.

Peningkatan produksi dari dua kilogram menjadi enam hingga tujuh kilogram adonan menunjukkan perkembangan usaha Devi sejak bergabung dengan CFD Pasar Pinusan. Keramaian pengunjung menjadi peluang bagi pedagang untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Pengunjung CFD Pasar Pinusan Tumbuh 5–7 Persen

Peningkatan aktivitas jual beli tersebut sejalan dengan tren pertumbuhan jumlah pengunjung CFD Pasar Pinusan.

Didik, Humas CFD Pasar Pinusan dari tim Elang Raung, menyampaikan bahwa jumlah pengunjung mengalami kenaikan secara bertahap sejak kegiatan perdana pada 13 September 2026 hingga pekan keenam pada 18 Oktober 2026.

“Sejak minggu pertama dibuka pada 13 September 2026 lalu hingga hari ini, Minggu keenam pada 18 Oktober 2026, dari minggu ke minggu ada kenaikan meskipun tidak besar, sekitar 5–7 persen. Hal itu bisa kita cek dari data parkir di lapangan,” paparnya.

Menurut Didik, data parkir menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan jumlah pengunjung. Meski pertumbuhannya berlangsung secara bertahap, tren tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan kegiatan dan peluang usaha para pedagang.

Jumlah pengunjung yang terjaga menjadi faktor penting bagi pelaku UMKM. Semakin banyak masyarakat yang datang, semakin besar pula kesempatan pedagang memperkenalkan produk, menjaring pelanggan baru, dan meningkatkan penjualan.

Bukan Sekadar Olahraga, CFD Jadi Penggerak Ekonomi Warga

CFD Pasar Pinusan kini berkembang menjadi lebih dari sekadar ruang olahraga dan rekreasi keluarga pada Minggu pagi. Kegiatan ini mulai membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar, termasuk warga di kawasan pangkuan hutan yang memiliki potensi produk lokal untuk dikembangkan.

Kisah Isti dengan nasi urapnya dan Devi dengan kue bikang serta pukisnya memperlihatkan bahwa peluang usaha bisa tumbuh ketika produk lokal bertemu dengan pasar yang tepat.

Bagi pedagang, hasil penjualan tersebut menjadi tambahan pendapatan yang berarti bagi rumah tangga. Sementara bagi masyarakat, keberadaan CFD memberikan alternatif kegiatan akhir pekan yang sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.

Ke depan, CFD Pasar Pinusan berpotensi menjadi wadah promosi kuliner tradisional dan produk UMKM yang lebih luas. Konsistensi penyelenggaraan, dukungan pengelola, partisipasi masyarakat, serta keterlibatan pedagang menjadi faktor penting untuk menjaga perkembangan kegiatan ini.

Dengan tren kunjungan yang terus meningkat dan sejumlah pedagang yang mulai menambah kapasitas produksi, CFD Pasar Pinusan diharapkan mampu membuka kesempatan usaha bagi lebih banyak warga.

Bukan sekadar meramaikan Minggu pagi, CFD Pasar Pinusan mulai membuktikan bahwa keramaian bisa membuka peluang, dan peluang bisa menghadirkan rezeki bagi masyarakat.

  • Penulis: Yusuf S
  • Editor: Dhika Resta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less