Dari Kehidupan Sederhana hingga Dunia Sastra, Arif Subandi Terus Merangkai Makna Lewat Puisi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 10 jam yang lalu

Merawat Kata dari Perjalanan Hidup: Jejak Kepenulisan Arif Subandi
SUARA BANYUWANGI – Di balik setiap puisi, sering kali tersimpan perjalanan hidup yang panjang. Begitu pula dengan Arif Subandi, penulis asal Banyuwangi yang menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber utama dalam setiap karya yang ia lahirkan. Bagi Arif, menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan cara memahami kehidupan dan menyampaikan apa yang kerap sulit diucapkan secara langsung.
Lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada tahun 1993, Arif merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ia berasal dari keluarga keturunan Jawa yang mengikuti program transmigrasi pada era 1990-an. Kehilangan ayah sejak usia dua tahun membuat masa kecilnya diwarnai perjuangan bersama sang ibu. Setelah itu, keluarga menetap di Kabupaten Banyuwangi, tempat Arif tumbuh dengan nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, dan penghormatan terhadap sesama.
Ketertarikan Arif pada dunia sastra muncul saat masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Sejak saat itu, puisi menjadi ruang yang ia pilih untuk menyimpan sekaligus membagikan berbagai kegelisahan. Tema-tema yang ia angkat lahir dari kehidupan sehari-hari, mulai dari kasih sayang seorang ibu, pencarian makna spiritual, dinamika pekerjaan, hingga kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
Bagi Arif, sebuah puisi tidak selalu harus lahir dari kesedihan. Ada kalanya inspirasi muncul dari peristiwa sederhana yang sering luput dari perhatian. Karena itulah, tulisan-tulisannya lebih banyak mengajak pembaca merenung dibandingkan menggurui. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang dapat dimaknai melalui rangkaian kata.
Perjalanan hidup juga membentuk kepribadiannya. Semasa kecil, Arif dikenal pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan dunianya sendiri. Namun, pengalaman bekerja sebagai sales marketing dan penyiar radio perlahan mengubah cara pandangnya. Pekerjaan yang menuntut komunikasi intensif membuatnya belajar berbicara di depan banyak orang, membangun relasi, sekaligus mengasah kreativitas dalam menyampaikan gagasan.

Buku Karya Arif Subandi “Harusnya Kita Bicara”
Konsistensinya dalam berkarya telah membawanya berkontribusi dalam sejumlah buku antologi, seperti Tentang Ibu, Menyemai Kenangan, Sajak Untuk Diri, Cerita Tentang Dia, Doa Untuk Palestina, Merapal Makna, dan Selaksa Pesona Rasa. Selain itu, ia juga menerbitkan dua buku tunggal, yakni Goresan Arif Bagian 1 pada Juli 2024 dan Harusnya Kita Bicara pada Januari 2026.
Bagi Arif Subandi, menulis bukanlah tujuan akhir. Ia melihat setiap karya sebagai jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan kehidupan orang lain. Melalui puisi dan tulisan yang ia hasilkan, Arif berharap pembaca dapat menemukan ruang untuk mengenali diri, merasakan empati, dan memaknai hidup dari sudut pandang yang berbeda.
Perjalanan kepenulisannya masih terus berlanjut. Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan, Arif tetap meyakini bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyentuh hati, menyimpan kenangan, dan meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.


- Penulis: Redaksi
- Editor: Dhika Resta




Saat ini belum ada komentar